Satu Klik Lebih Dekat

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 21 Juli 2014

(Dibalik) Pembukaan PPL Kelompok 28 di SMAN 26 Bandung



Selang sehari sebelumnya, kami para calon praktikan PPL yang berjumlah 23 orang dijadwalkan untuk bersama-sama memulai melakukan observasi. Rencana awal berangkat pagi-pagi sekitar pukul 08.00 WIB, sedang seluruh bapak-bapak yang kebetulan berjumlah tiga orang ditunjuk sebagai tim awal dan berangkat pukul 07.00 WIB. Mendekati pukul 08.00 ada pesan singkat dari pak koordinator yang mengabarkan sesuatu yang sepertinya amat sangat genting berbunyi, "kita kumpul sekarang di mesjid iqomah, tidak jadi ke sekolah. wajib ada semua. gawat". Pesan singkat bernada mencemaskan itu pun kami gubris dengan langsung melangkahkan kaki sesuai dengan intruksi pesan singkat pak koordinator.

Tiba di iqomah sudah banyak rekan-rekan lain yang tengah menunggu dengan mimik wajah yang hampir seragam, cemas. Pak koordinator lalu membuka perkumpulan, kemudian dengan santainya membalas tatapan cemas kami dengan senyum simpul penuh teka teki, dan pada akhirnya menyatakan bahwa sebetulnya ia hanya akan mengabarkan bahwa kita mendapat respon baik dan hangat dari pihak SMAN 26. Huft! Saya menarik nafas pelan lalu mengedarkan pandangan pada rekan-rekan saya yang kesemuanya tengah mengelus dada, menahan rasa gemas dan siap melontarkan sekedar kata "hhuuuu" lalu tergelak berbarengan. Hhaha, kami kira yang akan disampaikan itu sesuatu yang dapat membuat spot jantung saking buruknya kabar yang didengar, eh ternyata malah sebaliknya, respon salah satu rekan saya. & saya pun hanya mengiyakan seraya menggerutu pelan. heu,

Selain itu ternyata masih ada kabar lain, yakni perihal pembukaan PPL kami yang jadwalnya harus dimajukan menjadi esok hari! Oalaah.. yg ini baru spot jantung. heheu, tapii, kabar ini kami rasa sangat positif, mengingat jika tidak besok, maka pembukaan harus diundur jauuuuh-jauh hari yaitu ba'da lebaran, ketika masuk sekolah nanti. Tentu saja kami tidak ingin terlalu menguur-ngulur waktu, sehingga rekomendasi dari sekolah untuk melakukan pembukaan PPL besok kami terima dengan konsekuensi kami harus segera bergerak menghubungi para dosen pembimbing agar dapat hadir di acara pembukaan besok. Beruntung, untuk hal-hal teknis semisal susunan acara, design banner dan seragam batik telah kami bicarakan sehari sebelumnya, sehingga untuk sekarang hanya tinggal memfixkan beberapa hal saja.

Akhirnnya, hari 'H' pun tiba. Kami para calon guru praktikan telah berdandan se'perfect mungkin karena ini kali perdana kami mengunjungi sekolah yang akan menjadi tempat kami mengabdi selama lebih kurang dua bulan lamanya. Tentu saja kesan pertama haruslah bernilai positif, dan ini dapat kami tunjukan salah satunya dengan keseragaman kami bak Ibu Bapak guru sungguhan dengan balutan batik bearoma 'toko'. Maklum, setelah dibeli tidak sempat dicuci dulu dan langsung main pakai saja. hehe,

Sesuai intruksi pak koordinator, kami berkumpul di depan gedung rektorat pukul 06.30 WIB yang molor menjadi pukul 07.00 WIB. Jeprat-jepret barang sebentar lalu satu persatu mulai berangkat dengan menaiki sepeda bermesin bak sedang konvoi. Lokasi SMAN 26 terbilang tidak terlalu jauh karena jika dari kost'an saya tinggal naik motor lurus saja ke atas, ke daerah manglayang. Tiba disana, kami tidak langsung masuk, tetapi menunggu dulu teman-teman lain yang masih di perjalanan. Setelah komplit, kami digiring menuju mesjid yang akan menjadi TKP (Tempat kejadian Pembukaan) PPL kami. :D Tapi kemudian ada intruksi bahwa tempat pembukaan dialihkan menjadi di ruangan rapat guru. Banner atau spanduk yang direncanakan akan dipajang pun tidak dipakai karena bisa menggunakan media infocus. dan karena diantara kami tidak ada yang membawa laptop ataupun notebook, maka saya mengajukan diri untuk menggunakan notebook saya saja, lalu meminta izin untuk mengambil notebooknya di kost'an, diantar oleh Bu Rere.

Hal-hal teknis telah selesai dipersiapkan. Sekarang hanya tinggal mengeksekusi acara saja agar berjalan lancar nan khidmat. Tetapi, waktu pembukaan yang dijadwalkan pukul 09.00 WIB ternyata baru dapat dimulai pada pukul 09.15 WIB, agak sedikit ngaret disebabkan kepala SMAN 26 masih dalam perjalanan. Namun begitu kami bersyukur karena para dosen pembimbing dapat meluangkan waktu untuk hadir di acara pembukaan PPL kelompok 28 di SMAN 26 Bandung, pun dengan para guru di SMAN 26 yang antusias menghadiri acara pembukaan PPL kami.

Acara pun dimulai. Bu Anty yang bertindak sebagai MC formal membuka acara dengan bacaan basmallah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur'an yang dibacakan dengan anggun oleh Bu Rere. Setelah itu prakata pertama dari koordinator PPL kel. 28, yaitu Pak Agung yang melaporkan jumlah mahasiswa praktikan beserta jurusannya masing-masing, dimana untuk mahasiswa praktikan di SMAN 26 berjumlah 23 orang yang berasal dari tiga jurusan, yaitu jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan jurusan PMIPA (Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Biologi).

Prakata selanjutnya yaitu dari perwakilan dosen pembimbing yang berisi petuah-petuah teruntuk kami para praktikan, sekaligus secara tersirat menyerahkan kami kepada pihak sekolah. Pihak sekolah pun merespon penyerahan kami para praktikan dalam prakata yang diwakili oleh Bapak Kepala sekolah. Secara tersirat pihak sekolah menerima kami dengan hangat dan lapang dada (lho..? hehe). Seperti yang dituturkan oleh Bapak Kepala Sekolah, bahwa SMAN 26 ini tengah naik-naiknya, tengah mendidik para peserta didik agar banyak meraih prestasi. Harapan Bapak Kepala Sekolah sendiri yaitu minimalnya prestasi yang tengah dibangun dan dirintis ini tetap ak.a. tidak menurun, dan syukur-syukurnya dengan kehadiran kami para praktikan dapat semakin melejitkan prestasi para peserta didik di SMAN 26. Inilah.. inilah amanah yang harus kami pegang dan kami emban di pundak kami. Tidak mudah menjadi seorang pendidik, terutama bagi kami yang masih 'awan' dalam dunia kependidikan ini. Awam dalam arti kata terjun langsung ke kelas dengan puluhan mata menatap kami dengan pandangan haus akan ilmu. Tapi, bukankah tidak ada yang tidak mungkin? Sikap optimistislah yang harus kami sugestikan selalu.

Acara dilanjutkan dengan penandatangan MOU oleh perwakilan dosen pembimbing atas nama Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, lalu penyerahan buku panduan PPL dari perwakilan dosen pembimbing ke pihak sekolah yang diwakili oleh Bapak Kepala Sekolah. Ba'da itu, pembukaan secara simbolik ala-ala kimia pun dilakukan oleh pihak Sekolah dengan menyemprotkan cairan berwarna kuning kunyit ke kertas karton berwarna putih yang telah dibentangkan sehingga munculah kalimat "Pembukaan PPL 2014 di SMAN 26 Bandung". Bravo! Tepuk tangan pun bergema riuh.

Rangkaian acara terakhir yaitu do'a yang dibacakan oleh Pak Riski dan kami meng'aamiinkan. Acara pun ditutup dengan bacaan hamdallah. Alhamdulillah....

Selang waktu setelah pembukaan, kami diintruksikan agar jangan dulu bubar karena akan ada beberapa arahan dari wakasek bidang kurikulum, sebut saja Pak Dodi. Ada beberapa point penting yang disampaikan, diantaranya yaitu mengenai kurikulum 2013 yang sudah mulai diterapkan, kiat-kiat sukses mengelola kelas, penjelasan mengenai guru pamong kami masing-masing, jadwal piket dan tugas-tugasnya, serta sekilas tentang laporan kegiatan yang harus diserahkan ke pihak sekolah per masing-masing mahasiswa.

Berbicara mengenai guru pamong, setelah arahan dari wakasek bidang kurikulum, kami selanjutnya menemui guru pamong kami masing-masing. Untuk biologi sendiri, guru pamongnya ada dua guru, yaitu Bu Edah dan Bu Rosita. Usut punya usut, Bu Edah itu Ibunya a Rifki, Ketum HMPB tahun lalu.

Karena guru pamongnya ada dua, maka dilakukanlah pengocokan ala-ala arisan, dan tarraaa... tiga orang rekan saya yaitu Bu Silvia kuadrat dan Bu Puspa, guru pamongnya adalah Bu Edah. Sedang sisanya yaitu saya dan Bu Sari Devi, guru pamongnya adalah Bu Rosita. Fyuuh.. Saya bersyukur karena ternyata kelas yang dipegang oleh Bu Rosita adalah kelas X dan XII. Namun karena praktikan tidak dimungkinkan mengajar kelas XII, maka otomatis kami (saya dan Bu sari) diberikan amanah untuk mengajar di kelas X. Itu pun hanya satu kelas. Berbeda dengan tiga rekan saya lainnya yang harus mengajar di dua kelas (kelas XI), di bonusi harus membuat RPP selama satu tahun pula. Wuiih, ganbatte deng ya kawan-kawan ^_^

Yosh.. aroma-aroma RPP dan segala pernak-perniknya sudah amat sangat menyengat. Manfaatkan jeda waktu lebih kurang dua minggu untuk mengkredit menyelesaikan apa-apa berkenaan dengan KBM yang dimulai awal agustus mendatang. Tiada kata menunda-nunda pekerjaan (lagi), yoo.. Selesaikan dengan anggun. :)


Bandung, 15 Juli 2014


Ramadhan Lalu dan Sekarang

Selalu memimpikan tidak sekedar melewatkan ramadhan begitu saja. Selalu berharap ramadhan dari tahun ke tahun di penuhi dengan kegiatan yang penuh warna, penuh hal-hal yang bermanfaat, dan menghabiskan waktu dengan aktivitas berkualitas. Menoreh makna dan menebar manfaat menjadi prinsip yang acapkali terlintas dalam benak saya.

Lalu, sudahkah saya melewati ramadhan di tahun-tahun sebelumnya dengan aktivitas padat yang positif nan penuh antusias? Sudahkah saya melakukan apa yang telah di prinsipkan di awal? Sudahkan saya menjadi sebaik-baiknya insan yaitu insan yang bermanfaat walaupun hanya dalam satu bulan dari dua belas bulan yang Allah telah sediakan?

Entah.. Entah karena saya yang belum memiliki komitmen yang begitu kuat. Entah karena niat yang hanya sekedar niat dan tidak tertanam dalam hati. Entah karena penyakit malas yang menggerogoti diri. Entah karena saya terlalu banyak mengkambing-hitamkan keadaan, dan entah-entah lainnya yang justru menjadi jawaban konkret atas semua pertanyaan yang saya gerombolkan diawal.

Mungkin karena merasa sedikit lelah dengan prinsip di awal yang justru kerap saya nodai dengan cara tidak melaksanakannya, maka untuk ramadhan kali ini tidak ada prinsip segagah ramadhan tahun lalu. Hanya i'tikad baik tentang bagaimana melaksanakan amalan-amalan sunnah terutama amalan wajib yang tidak intens saya lakukan karena berbagai hal, menjadi intens saya lakukan dengan harapan habit-habit ini kelak akan terbawa sampai ramadhan usai. Intinya adalah perubahan ke arah yang lebih baik dengan upaya perbaikan diri.

Jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan sebelum ramadhan tahun ini menjelang, saya sudah dapat menangkap aroma-aroma berupa prediksi bahwa ramadhan kali ini akan amat sangat menyenangkan. Apa hal? Tentu saja karena akan ada banyak agenda dikarenakan  ramadhan tahun ini tidak sepenuhnya saya habiskan dan lewati di rumah. Bandung sebagai kota saya menempuh pendidikan sekaligus kota kedua saya tinggal akan menjadi incaran empuk dan (satu-satunya) alternatif tempat (untuk saat ini)  agar menghabiskan Ramadhan dengan lebih produktif.

Terlebih untuk tahun ini saya sudah menginjak tingkat tiga semester genap, dimana telah tertera dikontrak perkuliahan bahwa akan ada kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) yang harus saya jalani selama lebih kurang 2 bulan terhitung dari pertengahan ramadhan. Orientasi Praktik Keguruan (OPK) yang kebetulan dilaksanakan di awal bulan Ramadhan harus saya ikuti sebagai salah satu syarat sebelum melaksanakan PPL.

Pada awalnya saya ditempatkan di MTs Ar-rasyidiyah dan bahkan telah bertemu dalam kumpulan dengan teman-teman satu kelompok yang berasal dari jurusan atau program studi yang berbeda. Namun entah kenapa sang dosen pembimbing justru mengintruksikan merolling saya dan satu teman saya untuk ditempatkan di SMA Negeri 26. Saya yang lebih 'aman' untuk ditempatkan di SMA pun merasa 'nyaman-nyaman' saja karena memang sewaktu microteaching di semester kemarin condongnya itu lebih di orientasikan untuk mengajar di SMA.

Selain itu ada agenda lain yang saya tunggu-tunggu, yaitu agenda BANSOS (Bantuan Sosial) sekaligus buka bersama yang diselenggarakan oleh bidang KPPM HMPB Apis mellifera Periode 2013/2014 dengan sasaran anak-anak yatim di Panti Asuhan Amanah Ummah, Cisaranten Binaharapan Arcamanik, Bandung. Seperti yang diutarakan oleh Pak Ijang, salah satu guru disana yang menyambut kami dan sekaligus mewakili Kyai pendiri panti asuhan ini, bahwa dengan mengunjungi, bercengkerama dan mengelus kepala anak yatim merupakan salah satu cara untuk melembutkan hati sesuai dengan titah Rasulullah.
Banyak ibroh yang dapat saya petik dari agenda BANSOS ini, diantaranya yaitu agar kita sebagai insan dan makhluk yang paling Allah muliakan seyogyanya selalu bersyukur atas rahmat dan karunia yg telah di anugerahkan-Nya. Sedikit banyaknya itu harus selalu di syukuri. Karena tengoklah para adik-adik kita di panti asuhan ini misalnya. Mereka yang telah Allah sedikit ambil karunianya dengan ketiadaan Ibu atau Ayah dalam kehidupan mereka, tetap memiliki i'tikad untuk mensyukuri nikmatNya dengan secercah asa dan semangat yang mereka miliki.

Sedikit menempelkan postingan saya di jejaring sosial, "Jangan merisaukan sesuatu yang belum tentu kita miliki. Tetapi justru bersyukurlah atas apa yang telah kita miliki sekarang, atas apa yang telah Allah anugerahkan. Lihatlah ke 'atas' untuk urusan akhiratmu, tetapi lihatlah ke 'bawah' untuk urusan duniamu".


Bandung, 14 Ramadhan 1435 H

Jikalah pada Akhirnya..

Kawan, pernahkah engkau merasakan sebuah penderitaan yang sangat? Barangkali rasanya seperti ingin mati saja, ya! Seperti apa, sih, rasanya ditinggal oleh seseorang yang kita cintai? Mungkin kita akan meratap berhari-hari, mengenang masa-masa bersamanya, dan berharap semua yang telah berlalu kembali lagi, berangan-angan andai mereka tidak pernah pergi.
Kawan, bagaimana rasanya diliputi benci dan marah? Ah, dada dan kepala seperti mau meledak. Mungkin kita inginnya      memuntahkan segala kekesalan sepuas-puasnya. Kawan, pasti kita pernah gagal. Saat itu rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tidak ada lagi semangat, apalagi tekad. Kita pun mendek, malas untuk bergerak lagi. kawan, semua kita pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tetapi kita tidak sanggup keluar daripadanya.
Kawan, saya percaya ketika waktu terus berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan berbeda. Bisa jadi, engkau merasakan penderitaanmu dulu tidak sehebat yang engkau kira. Masih banyak orang lain yang  lebih menderita. Mungkin saja engkau akan melihat kemarahan dan kebencianmu tidaklah beralasan. Sangat boleh, kegagalanmu belum ada apa-apanya. Barangkali kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.
Kawan, seiring waktu berjalan, pikiran kita tumbuh, dan perasaan kita berubah. Jika demikian halnya, mengapa kita biarkan diri tenggelam, sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya? Jadi…

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti di jalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa tidak dinikmatai saja,
Sedang ratap tangis tidak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti diumbar sepuas rasa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang tobat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti membusung dada,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

*Seperti dikutip dalam buku “Karena Aku Begitu Cantik”
by Mbak Azimah Rahayu..
^.^

Tangis dan Air Mata


Saat hatiku gundah dan resah,
Engkau menemaniku tanpa banyak kata.
Engkau hadir di sana,
Memupus gundah dan resahku.

Saat aku bersedih dan bersendu hati,
Engkau menemaniku tanpa enggan.
Engkau hadir di sampingku,
Mengurangi sedih dan senduku.

Saat aku merasakan pedih dan perih merobek-robek jantungku,
Engkau menemuiku tanpa ku pinta.
Engkau hadir di diriku,
Menghapus pedih dan perihku.

Saat aku sakit dan terluka,
Engkau menungguiku dengan tenang.
Engkau hadir di relung dadaku,
Mengobati sakit dan lukaku.

Saat aku marah dan kecewa,
Engkau mendatangiku tanpa pesan.
Engkau hadir di sudut jiwaku,
Tuntaskan marah dan kecewaku.

Saat aku merasa terenyuh dan kasihan,
Engkau bersamaku dalam diam.
Engkau hadir di kedalaman nuraniku,
Menampung terenyuh dan kasihku.

Saat aku takut dan berbuat salah,
Engkau menujuku cepat-cepat.
Engkau hadir di ruang hatiku,
menjagaku dari penyesalan berkepanjangan

Menjagaku untuk tidak tenggelam dalam ketakutan.
Bahkan saat aku terharu dan bahagia, engkau pun turut bersamaku.
Engkau ada di sini, mewujudkan buncah bahagia dan haruku.
Diam-diam engkau merembes di sudut mataku, resapkan resah dan gundahku.

Pelan-pelan engkau menetes dari kelopakku..
Tiriskan sedih, sendu, pedih dan perihku.
Engkau meleleh di pipiku..
Hanyutkan sakit dan lukaku.
Engkau membasahi wajahku..
Larutkan marah dan kecewaku.
Engkau mengalir ke daguku..
Luruhkan terenyuh dan kasihanku.
(Azi)
<<<>>> 

Tangis, engkau menjadi simbol atas segala ekspresiku.
          Engkau menjadi tanda saat aku bahagia. Engkau menjadi temanku saat aku gembira. Engkau selalu ada saat aku takut, saat aku sedih, saat aku senang, saat aku haru, saat aku sakit, saat aku jatuh cinta, saat aku gembira, saat aku bahagia dan saat semua saat lainnya. Tangis, engkau selalu ada di segala rasaku.
          Jika tidak menangis saat aku sedih, pedih, perih, dan terluka, semua beben itu akan menggerogoti hidupku hingga aku mati rasa, kemudian gila. Jika tidak menangis saat aku marah, mungkin aku akan melukai diriku sendiri, orang lain, ataupun merusak benda-benda di sekelilingku. Jika tidak menangis saat aku gembira, mungkin aku akan menjadi sosok sombong yang membusungkan dada. Jika tidak menangis saat haru dan bahagia, mungkin aku akan menjadi sosok yang tidak bersyukur atas apa yang dimilikiNya.
          Denganmu, aku lebih dapat berlapang dada. Denganmu, akan tersingkirkan segala beban jiwa. Denganmu, dadaku menjadi lega. Denganmu, aku dapat meluluhkan gejolak jiwa. Denganmu, aku dapat menikmati setiap luka.
          Engkau ada saat yang lain tiada. Engkau yang paling awal tiba, saat saat kerabat dan sahabat tiada dekat. Engkau ada di setiap peristiwa saat yang lain sibuk dengan urusannya. Engkau menemaniku dimanapun jua, tidak peduli sedang apa atau bagaimana.
          Aku tidak tahu apa jadinya diriku tanpamu karena hanya engkau yang benar-benar dapat mengerti aku. Engkau selalu mendengar keluhku tanpa membalas dengan kesah karena hanya engkau yang dapat memehamiku. Engkau tidak pernah enggan menampung bebanku tanpa merecokiku dengan berbagai alasan. Engkau selalu bersedia mendengarkanku tanpa rewel menasihatiku.
          Aku bersyukur allah menciptakanmu dan menjadikanmu bagian dari hidupku. Aku berterima kasih karena engkau adalah sahabat sejatiku. Oleh karena itu, jangan engkau pergi dariku. Jika engkau meninggalkanku, aku patut bertanya, “Apakah aku masih memiliki hati dan nurani?”
          Jika seorang manusia tidak lagi dapat menangis, patutlah dia menangisi ketidakmampuannya untuk menangis karena jangan-jangan itu pertanda hatinya telah mati.

#suatu waktu
melepas semua keping yang menyerpih
dengan tangis dan air mata

*karena Aku Begitu Cantik*
(Mbak Azimah Rahayu)