Saat hatiku gundah dan resah,
Engkau
menemaniku tanpa banyak kata.
Engkau
hadir di sana,
Memupus
gundah dan resahku.
Saat
aku bersedih dan bersendu hati,
Engkau
menemaniku tanpa enggan.
Engkau
hadir di sampingku,
Mengurangi
sedih dan senduku.
Saat
aku merasakan pedih dan perih merobek-robek jantungku,
Engkau
menemuiku tanpa ku pinta.
Engkau
hadir di diriku,
Menghapus
pedih dan perihku.
Saat
aku sakit dan terluka,
Engkau
menungguiku dengan tenang.
Engkau
hadir di relung dadaku,
Mengobati
sakit dan lukaku.
Saat
aku marah dan kecewa,
Engkau
mendatangiku tanpa pesan.
Engkau
hadir di sudut jiwaku,
Tuntaskan
marah dan kecewaku.
Saat
aku merasa terenyuh dan kasihan,
Engkau
bersamaku dalam diam.
Engkau
hadir di kedalaman nuraniku,
Menampung
terenyuh dan kasihku.
Saat
aku takut dan berbuat salah,
Engkau
menujuku cepat-cepat.
Engkau
hadir di ruang hatiku,
menjagaku
dari penyesalan berkepanjangan
Menjagaku
untuk tidak tenggelam dalam ketakutan.
Bahkan
saat aku terharu dan bahagia, engkau pun turut bersamaku.
Engkau
ada di sini, mewujudkan buncah bahagia dan haruku.
Diam-diam
engkau merembes di sudut mataku, resapkan resah dan gundahku.
Pelan-pelan
engkau menetes dari kelopakku..
Tiriskan
sedih, sendu, pedih dan perihku.
Engkau
meleleh di pipiku..
Hanyutkan
sakit dan lukaku.
Engkau
membasahi wajahku..
Larutkan
marah dan kecewaku.
Engkau
mengalir ke daguku..
Luruhkan
terenyuh dan kasihanku.
(Azi)
<<<>>>
Tangis, engkau menjadi simbol atas segala
ekspresiku.
Engkau
menjadi tanda saat aku bahagia. Engkau menjadi temanku saat aku gembira. Engkau
selalu ada saat aku takut, saat aku sedih, saat aku senang, saat aku haru, saat
aku sakit, saat aku jatuh cinta, saat aku gembira, saat aku bahagia dan saat
semua saat lainnya. Tangis, engkau selalu ada di segala rasaku.
Jika
tidak menangis saat aku sedih, pedih, perih, dan terluka, semua beben itu akan
menggerogoti hidupku hingga aku mati rasa, kemudian gila. Jika tidak menangis
saat aku marah, mungkin aku akan melukai diriku sendiri, orang lain, ataupun
merusak benda-benda di sekelilingku. Jika tidak menangis saat aku gembira,
mungkin aku akan menjadi sosok sombong yang membusungkan dada. Jika tidak
menangis saat haru dan bahagia, mungkin aku akan menjadi sosok yang tidak
bersyukur atas apa yang dimilikiNya.
Denganmu,
aku lebih dapat berlapang dada. Denganmu, akan tersingkirkan segala beban jiwa.
Denganmu, dadaku menjadi lega. Denganmu, aku dapat meluluhkan gejolak jiwa.
Denganmu, aku dapat menikmati setiap luka.
Engkau
ada saat yang lain tiada. Engkau yang paling awal tiba, saat saat kerabat dan
sahabat tiada dekat. Engkau ada di setiap peristiwa saat yang lain sibuk dengan
urusannya. Engkau menemaniku dimanapun jua, tidak peduli sedang apa atau
bagaimana.
Aku
tidak tahu apa jadinya diriku tanpamu karena hanya engkau yang benar-benar
dapat mengerti aku. Engkau selalu mendengar keluhku tanpa membalas dengan kesah
karena hanya engkau yang dapat memehamiku. Engkau tidak pernah enggan menampung
bebanku tanpa merecokiku dengan berbagai alasan. Engkau selalu bersedia
mendengarkanku tanpa rewel menasihatiku.
Aku
bersyukur allah menciptakanmu dan menjadikanmu bagian dari hidupku. Aku
berterima kasih karena engkau adalah sahabat sejatiku. Oleh karena itu, jangan
engkau pergi dariku. Jika engkau meninggalkanku, aku patut bertanya, “Apakah
aku masih memiliki hati dan nurani?”
Jika
seorang manusia tidak lagi dapat menangis, patutlah dia menangisi
ketidakmampuannya untuk menangis karena jangan-jangan itu pertanda hatinya
telah mati.
#suatu waktu
melepas semua keping
yang menyerpih
dengan tangis dan air
mata
*karena Aku Begitu
Cantik*
(Mbak Azimah Rahayu)









0 komentar:
Posting Komentar