Satu Klik Lebih Dekat

Senin, 21 Juli 2014

Ramadhan Lalu dan Sekarang

Selalu memimpikan tidak sekedar melewatkan ramadhan begitu saja. Selalu berharap ramadhan dari tahun ke tahun di penuhi dengan kegiatan yang penuh warna, penuh hal-hal yang bermanfaat, dan menghabiskan waktu dengan aktivitas berkualitas. Menoreh makna dan menebar manfaat menjadi prinsip yang acapkali terlintas dalam benak saya.

Lalu, sudahkah saya melewati ramadhan di tahun-tahun sebelumnya dengan aktivitas padat yang positif nan penuh antusias? Sudahkah saya melakukan apa yang telah di prinsipkan di awal? Sudahkan saya menjadi sebaik-baiknya insan yaitu insan yang bermanfaat walaupun hanya dalam satu bulan dari dua belas bulan yang Allah telah sediakan?

Entah.. Entah karena saya yang belum memiliki komitmen yang begitu kuat. Entah karena niat yang hanya sekedar niat dan tidak tertanam dalam hati. Entah karena penyakit malas yang menggerogoti diri. Entah karena saya terlalu banyak mengkambing-hitamkan keadaan, dan entah-entah lainnya yang justru menjadi jawaban konkret atas semua pertanyaan yang saya gerombolkan diawal.

Mungkin karena merasa sedikit lelah dengan prinsip di awal yang justru kerap saya nodai dengan cara tidak melaksanakannya, maka untuk ramadhan kali ini tidak ada prinsip segagah ramadhan tahun lalu. Hanya i'tikad baik tentang bagaimana melaksanakan amalan-amalan sunnah terutama amalan wajib yang tidak intens saya lakukan karena berbagai hal, menjadi intens saya lakukan dengan harapan habit-habit ini kelak akan terbawa sampai ramadhan usai. Intinya adalah perubahan ke arah yang lebih baik dengan upaya perbaikan diri.

Jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan sebelum ramadhan tahun ini menjelang, saya sudah dapat menangkap aroma-aroma berupa prediksi bahwa ramadhan kali ini akan amat sangat menyenangkan. Apa hal? Tentu saja karena akan ada banyak agenda dikarenakan  ramadhan tahun ini tidak sepenuhnya saya habiskan dan lewati di rumah. Bandung sebagai kota saya menempuh pendidikan sekaligus kota kedua saya tinggal akan menjadi incaran empuk dan (satu-satunya) alternatif tempat (untuk saat ini)  agar menghabiskan Ramadhan dengan lebih produktif.

Terlebih untuk tahun ini saya sudah menginjak tingkat tiga semester genap, dimana telah tertera dikontrak perkuliahan bahwa akan ada kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) yang harus saya jalani selama lebih kurang 2 bulan terhitung dari pertengahan ramadhan. Orientasi Praktik Keguruan (OPK) yang kebetulan dilaksanakan di awal bulan Ramadhan harus saya ikuti sebagai salah satu syarat sebelum melaksanakan PPL.

Pada awalnya saya ditempatkan di MTs Ar-rasyidiyah dan bahkan telah bertemu dalam kumpulan dengan teman-teman satu kelompok yang berasal dari jurusan atau program studi yang berbeda. Namun entah kenapa sang dosen pembimbing justru mengintruksikan merolling saya dan satu teman saya untuk ditempatkan di SMA Negeri 26. Saya yang lebih 'aman' untuk ditempatkan di SMA pun merasa 'nyaman-nyaman' saja karena memang sewaktu microteaching di semester kemarin condongnya itu lebih di orientasikan untuk mengajar di SMA.

Selain itu ada agenda lain yang saya tunggu-tunggu, yaitu agenda BANSOS (Bantuan Sosial) sekaligus buka bersama yang diselenggarakan oleh bidang KPPM HMPB Apis mellifera Periode 2013/2014 dengan sasaran anak-anak yatim di Panti Asuhan Amanah Ummah, Cisaranten Binaharapan Arcamanik, Bandung. Seperti yang diutarakan oleh Pak Ijang, salah satu guru disana yang menyambut kami dan sekaligus mewakili Kyai pendiri panti asuhan ini, bahwa dengan mengunjungi, bercengkerama dan mengelus kepala anak yatim merupakan salah satu cara untuk melembutkan hati sesuai dengan titah Rasulullah.
Banyak ibroh yang dapat saya petik dari agenda BANSOS ini, diantaranya yaitu agar kita sebagai insan dan makhluk yang paling Allah muliakan seyogyanya selalu bersyukur atas rahmat dan karunia yg telah di anugerahkan-Nya. Sedikit banyaknya itu harus selalu di syukuri. Karena tengoklah para adik-adik kita di panti asuhan ini misalnya. Mereka yang telah Allah sedikit ambil karunianya dengan ketiadaan Ibu atau Ayah dalam kehidupan mereka, tetap memiliki i'tikad untuk mensyukuri nikmatNya dengan secercah asa dan semangat yang mereka miliki.

Sedikit menempelkan postingan saya di jejaring sosial, "Jangan merisaukan sesuatu yang belum tentu kita miliki. Tetapi justru bersyukurlah atas apa yang telah kita miliki sekarang, atas apa yang telah Allah anugerahkan. Lihatlah ke 'atas' untuk urusan akhiratmu, tetapi lihatlah ke 'bawah' untuk urusan duniamu".


Bandung, 14 Ramadhan 1435 H

0 komentar:

Posting Komentar