Selalu memimpikan tidak sekedar melewatkan
ramadhan begitu saja. Selalu berharap ramadhan dari tahun ke tahun di penuhi
dengan kegiatan yang penuh warna, penuh hal-hal yang bermanfaat, dan
menghabiskan waktu dengan aktivitas berkualitas. Menoreh makna dan menebar
manfaat menjadi prinsip yang acapkali terlintas dalam benak saya.
Lalu, sudahkah saya melewati ramadhan di
tahun-tahun sebelumnya dengan aktivitas padat yang positif nan penuh antusias?
Sudahkah saya melakukan apa yang telah di prinsipkan di awal? Sudahkan saya
menjadi sebaik-baiknya insan yaitu insan yang bermanfaat walaupun hanya dalam
satu bulan dari dua belas bulan yang Allah telah sediakan?
Entah.. Entah karena saya yang belum memiliki komitmen yang begitu kuat. Entah karena niat yang hanya sekedar niat dan tidak tertanam dalam hati. Entah karena penyakit malas yang menggerogoti diri. Entah karena saya terlalu banyak mengkambing-hitamkan keadaan, dan entah-entah lainnya yang justru menjadi jawaban konkret atas semua pertanyaan yang saya gerombolkan diawal.
Mungkin karena merasa sedikit lelah dengan
prinsip di awal yang justru kerap saya nodai dengan cara tidak melaksanakannya,
maka untuk ramadhan kali ini tidak ada prinsip segagah ramadhan tahun lalu.
Hanya i'tikad baik tentang bagaimana melaksanakan amalan-amalan sunnah terutama
amalan wajib yang tidak intens saya lakukan karena berbagai hal, menjadi intens
saya lakukan dengan harapan habit-habit ini kelak akan terbawa sampai ramadhan
usai. Intinya adalah perubahan ke arah yang lebih baik dengan upaya perbaikan
diri.
Jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan sebelum
ramadhan tahun ini menjelang, saya sudah dapat menangkap aroma-aroma berupa
prediksi bahwa ramadhan kali ini akan amat sangat menyenangkan. Apa hal? Tentu
saja karena akan ada banyak agenda dikarenakan
ramadhan tahun ini tidak sepenuhnya saya habiskan dan lewati di rumah.
Bandung sebagai kota saya menempuh pendidikan sekaligus kota kedua saya tinggal
akan menjadi incaran empuk dan (satu-satunya) alternatif tempat (untuk saat
ini) agar menghabiskan Ramadhan dengan
lebih produktif.
Terlebih untuk tahun ini saya sudah
menginjak tingkat tiga semester genap, dimana telah tertera dikontrak
perkuliahan bahwa akan ada kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) yang
harus saya jalani selama lebih kurang 2 bulan terhitung dari pertengahan
ramadhan. Orientasi Praktik Keguruan (OPK) yang kebetulan dilaksanakan di awal
bulan Ramadhan harus saya ikuti sebagai salah satu syarat sebelum melaksanakan
PPL.
Pada awalnya saya ditempatkan di MTs Ar-rasyidiyah
dan bahkan telah bertemu dalam kumpulan dengan teman-teman satu kelompok yang
berasal dari jurusan atau program studi yang berbeda. Namun entah kenapa sang
dosen pembimbing justru mengintruksikan merolling saya dan satu teman saya
untuk ditempatkan di SMA Negeri 26. Saya yang lebih 'aman' untuk ditempatkan di
SMA pun merasa 'nyaman-nyaman' saja karena memang sewaktu microteaching di
semester kemarin condongnya itu lebih di orientasikan untuk mengajar di SMA.
Selain itu ada agenda lain yang saya tunggu-tunggu,
yaitu agenda BANSOS (Bantuan Sosial) sekaligus buka bersama yang
diselenggarakan oleh bidang KPPM HMPB Apis mellifera Periode 2013/2014 dengan
sasaran anak-anak yatim di Panti Asuhan Amanah Ummah, Cisaranten Binaharapan
Arcamanik, Bandung. Seperti yang diutarakan oleh Pak Ijang, salah satu guru
disana yang menyambut kami dan sekaligus mewakili Kyai pendiri panti asuhan
ini, bahwa dengan mengunjungi, bercengkerama dan mengelus kepala anak yatim
merupakan salah satu cara untuk melembutkan hati sesuai dengan titah
Rasulullah.
Banyak ibroh yang dapat saya petik dari agenda BANSOS ini, diantaranya yaitu agar kita sebagai insan dan makhluk yang paling Allah muliakan seyogyanya selalu bersyukur atas rahmat dan karunia yg telah di anugerahkan-Nya. Sedikit banyaknya itu harus selalu di syukuri. Karena tengoklah para adik-adik kita di panti asuhan ini misalnya. Mereka yang telah Allah sedikit ambil karunianya dengan ketiadaan Ibu atau Ayah dalam kehidupan mereka, tetap memiliki i'tikad untuk mensyukuri nikmatNya dengan secercah asa dan semangat yang mereka miliki.
Banyak ibroh yang dapat saya petik dari agenda BANSOS ini, diantaranya yaitu agar kita sebagai insan dan makhluk yang paling Allah muliakan seyogyanya selalu bersyukur atas rahmat dan karunia yg telah di anugerahkan-Nya. Sedikit banyaknya itu harus selalu di syukuri. Karena tengoklah para adik-adik kita di panti asuhan ini misalnya. Mereka yang telah Allah sedikit ambil karunianya dengan ketiadaan Ibu atau Ayah dalam kehidupan mereka, tetap memiliki i'tikad untuk mensyukuri nikmatNya dengan secercah asa dan semangat yang mereka miliki.
Sedikit menempelkan postingan saya di
jejaring sosial, "Jangan merisaukan sesuatu yang belum tentu kita miliki.
Tetapi justru bersyukurlah atas apa yang telah kita miliki sekarang, atas apa
yang telah Allah anugerahkan. Lihatlah ke 'atas' untuk urusan akhiratmu, tetapi
lihatlah ke 'bawah' untuk urusan duniamu".










0 komentar:
Posting Komentar