Bapak. Ya, Bapak. Sosok yang kukenal pertama kali semenjak
'mborojol' di 'Ardi-Nya ini -(setelah bu dokter atau mbak suster
tentunya)-, karena beliau yang mengadzani dan mengiqomahkan aku.
Bagiku, beliau adalah sosok yang tegas namun juga lembut.. Kombinasi
yang unik bukan? :)
Kenangan paling melekat dengan bapak tak jauh dari hal yang berbau
kuliner. Ya, bapakku yang hanya ada di rumah sewaktu pagi itu terkadang
membuat sarapan untuk kami sekeluarga. Terkadang pula, masakan hasil
kreasi bapaklah yang aku acungi jempol dibanding mamah. Juara deng..
hehe, Tapi yang aku acungi jempol itu hanya terbatas pada masakan
andalannya. Garis bawahi itu, hanya masakan andalannya. Selebihnya ya
tetap masakan mamah yang number one in our baitii jannatii. hehe,
Masakan andalannya nda jauh dari telor dadar atau nasi goreng yang
dimix dengan aneka bahan yang kala itu berseliweran di dapur (apapun
yang ada di dapur maksudnya. :D). Ada-ada saja memang Bapakkku itu.
Tapi jangan salah, masakannya wuenak tenan.. Malah aku sendiri sering
minta tambah porsi. heheu,
Selain karena rasa masakannya yang memang delicious, ada satu hal lagi
yang membuat cita rasa masakan Bapakku itu meningkat beberapa level
(Lho? macam game sajo yo. hhihi). Aku yang sedari kecil jika akan
berangkat sekolah pasti wa wajib bin kudu sarapan dulu -Mamah dan Bapak
yang mengajarkan agar selalu seperti itu-, sampai karena sesuatu hal
tak jarang pula Bapak menyuapiku. Dengan masakan andalannya tentu saja.
Dan itu berkelanjutan sampai aku beranjak remaja. Ya, suapan
kasihnyalah yang membuatku teringat sampai sekarang. Melekat....
(http://secercahasa-uzi.blogspot.com/)












