Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai
perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang
terbaik perbuatannya.
(Q.S. Al Kahfi, 18: 7)
Cinta memang universal,
kaya dengan dimensi, ragam dengan corak. Cinta menyimpan berjuta pesona dalam
kehidupan, sehingga dengan cinta, apa yang ada akan terasa indah. Demikianlah,
keindahan cinta tidak terbayangkan oleh
ilustrasi khayalan. Sajak-sajak puisi dan kata-kata mutiara para pujangga
sekalipun, tidak akan sanggup menggambarkan keelokkan cinta. Isi dari indahnya
cinta hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sedang dilanda cinta. Jalaluddin
Rumi menggambarkan dahsyatnya cinta sebagai berikut,
“Cinta
dapat mengubah rasa pahit getir menjadi semanis madu. Cinta bisa mengubah tanah
lempeng menjadi bongkahan permata. Cinta sangat mudah mengubah kekeruhan hidup
menjadi bening yang menyejukkan. Dengan cinta, luka yang menganga menjadi
sembuh seketika. Sakit yang teramat menyiksa menjadi tak terasa. Dengan cinta,
bongkahan baja bisa menjadi lebur. Batu yang kokoh dapat menjadi debu. Cinta
dapat menghidupkan kembali manusia yang telah mati.”
Dengan
cinta, seseorang akan melakukan apa saja demi sang bidadari yang dicinta. Demi
sesuatu yang dipujanya, baik dan buruk, hitam dan putih, halal dan haram akan
dilakukan. Inilah yang disebut cinta bak pisau yang bermata dua. Satu sisi
berguna, sisi yang lain dapat menikam tanpa disadari. Di satu sisi dapat
mengantarkan seseorang kepada cinta yang sesungguhnya dan di sisi lain dapat
menjerumuskan pada cinta yang salah, yang mengantarkan pada kesengsaraan. Naudzubillahimindzalik.
Allah
SWT. berfirman,
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih
mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut
kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Q.S. An Naziat, 79:
37-41)
Dengan cinta, kondisi terburuk apa pun
dapat dinikmati dengan nyaman. Penyair yang lain mengatakan, cinta adalah
energi yang dapat memberikan rasa aman dan kedamaian. Kita mencintai segala
sesuatu yang ada, mencintai manusia, mencintai semesta, mencintai sesuatu dalam
rasa yang sama, mencintai bencana sebagaimana kenikmatan. Dengan cinta, segala
sesuatu menjadi indah.
Ada
suatu pertanyaan penting, apakah setiap orang mampu mencinta seperti ini?
Jawabannya, kemampuan tersebut hanya ada pada para orang-orang yang beriman:
para nabi Allah dan sahabat-sahabatnya, para salafushshalih, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti jalan
keselamatan (Al Islam) karena keindahannya dan k arena merasakan ketakutan akan
adzab Allah.
Orang-orang
yang beriman dapat mencintai segala sesuatu, yang awal dan yang akhir, mencintai
kepedihan musibah sebagaimana mencintai limpahan nikmat. Orang yang beriman
dapat mencintai kematian sebagaimana ia mencintai kehidupan. Mencintai suka
segagaimana mencintai duka. Dalam suatu hadits disebutkan,
“Sungguh indah urusan orang yang
beriman, semua urusan yang ada padanya adalah kebaikan. Yang demikian itu hanya
dimiliki oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kegembiraan, maka ia
bersyukur dan syukur itu menjadi kebaikan baginya. Demikian juga ketika ia
mendapatkan cobaan, maka ia bersabar, dan sabar itu menjadi kebaikan baginya.
(H.R. Muslim)
Begitulah,
dengan cinta semuanya terasa indah, kesulitan tidak terasa sebagai beban karena
memang disikapi dengan bersabar. Pada saat orang lain berputus asa dan bersedih
hati, ia malah berperangai lembut dengan kesabaran. Sebaliknya, dengan cinta,
hal-hal yang tadinya memang sudah baik dan indah akan terasa semakin baik dan
indah. Namun demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya lupa diri atau
menjadi sosok yang takabur atau egois. Dengan hal itu ia justru memenuhi
hatinya dengan rasa syukur. Dengan sorotan cinta dan senyum kasih sayang ia
sapa segala kenikmatan dengan tidak membusungkan dada. Ia menikmati kehidupan
ini dengan penuh ketawadhuan.
Ibnu
Taimiyyah berkata, “apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku tidak ada artinya.
Sesungguhnya surge dan kebahagiaanku berada di dalam hatiku. Kemana pun aku
pergi, aku selalu bersama dengan surgaku. Jika mereka memenjarakanku, penjara
adalah tempat berkhalwatku. Jika mereka mengasingkanku, di tempat pengasingan tersebut
adalah tempat rekreasi yang indah bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematian
adalah syahid.”
#Sebuah
pendahuluan
dari buku
“Pesona Cinta Manusia-Manusia Pilihan”
(M. Surahman
Az Zuhri, Lc)










0 komentar:
Posting Komentar