Satu Klik Lebih Dekat

Senin, 21 Juli 2014

Dimensi Cinta

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
(Q.S. Al Kahfi, 18: 7)

Cinta memang universal, kaya dengan dimensi, ragam dengan corak. Cinta menyimpan berjuta pesona dalam kehidupan, sehingga dengan cinta, apa yang ada akan terasa indah. Demikianlah, keindahan cinta tidak terbayangkan  oleh ilustrasi khayalan. Sajak-sajak puisi dan kata-kata mutiara para pujangga sekalipun, tidak akan sanggup menggambarkan keelokkan cinta. Isi dari indahnya cinta hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sedang dilanda cinta. Jalaluddin Rumi menggambarkan dahsyatnya cinta sebagai berikut,
          “Cinta dapat mengubah rasa pahit getir menjadi semanis madu. Cinta bisa mengubah tanah lempeng menjadi bongkahan permata. Cinta sangat mudah mengubah kekeruhan hidup menjadi bening yang menyejukkan. Dengan cinta, luka yang menganga menjadi sembuh seketika. Sakit yang teramat menyiksa menjadi tak terasa. Dengan cinta, bongkahan baja bisa menjadi lebur. Batu yang kokoh dapat menjadi debu. Cinta dapat menghidupkan kembali manusia yang telah mati.”
          Dengan cinta, seseorang akan melakukan apa saja demi sang bidadari yang dicinta. Demi sesuatu yang dipujanya, baik dan buruk, hitam dan putih, halal dan haram akan dilakukan. Inilah yang disebut cinta bak pisau yang bermata dua. Satu sisi berguna, sisi yang lain dapat menikam tanpa disadari. Di satu sisi dapat mengantarkan seseorang kepada cinta yang sesungguhnya dan di sisi lain dapat menjerumuskan pada cinta yang salah, yang mengantarkan pada kesengsaraan. Naudzubillahimindzalik.
          Allah SWT. berfirman,

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Q.S. An Naziat, 79: 37-41)

          Dengan cinta, kondisi terburuk apa pun dapat dinikmati dengan nyaman. Penyair yang lain mengatakan, cinta adalah energi yang dapat memberikan rasa aman dan kedamaian. Kita mencintai segala sesuatu yang ada, mencintai manusia, mencintai semesta, mencintai sesuatu dalam rasa yang sama, mencintai bencana sebagaimana kenikmatan. Dengan cinta, segala sesuatu menjadi indah.
          Ada suatu pertanyaan penting, apakah setiap orang mampu mencinta seperti ini? Jawabannya, kemampuan tersebut hanya ada pada para orang-orang yang beriman: para nabi Allah dan sahabat-sahabatnya, para salafushshalih, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti jalan keselamatan (Al Islam) karena keindahannya dan k arena merasakan ketakutan akan adzab Allah.
          Orang-orang yang beriman dapat mencintai segala sesuatu, yang awal dan yang akhir, mencintai kepedihan musibah sebagaimana mencintai limpahan nikmat. Orang yang beriman dapat mencintai kematian sebagaimana ia mencintai kehidupan. Mencintai suka segagaimana mencintai duka. Dalam suatu hadits disebutkan,

“Sungguh indah urusan orang yang beriman, semua urusan yang ada padanya adalah kebaikan. Yang demikian itu hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kegembiraan, maka ia bersyukur dan syukur itu menjadi kebaikan baginya. Demikian juga ketika ia mendapatkan cobaan, maka ia bersabar, dan sabar itu menjadi kebaikan baginya. (H.R. Muslim)

Begitulah, dengan cinta semuanya terasa indah, kesulitan tidak terasa sebagai beban karena memang disikapi dengan bersabar. Pada saat orang lain berputus asa dan bersedih hati, ia malah berperangai lembut dengan kesabaran. Sebaliknya, dengan cinta, hal-hal yang tadinya memang sudah baik dan indah akan terasa semakin baik dan indah. Namun demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya lupa diri atau menjadi sosok yang takabur atau egois. Dengan hal itu ia justru memenuhi hatinya dengan rasa syukur. Dengan sorotan cinta dan senyum kasih sayang ia sapa segala kenikmatan dengan tidak membusungkan dada. Ia menikmati kehidupan ini dengan penuh ketawadhuan.
Ibnu Taimiyyah berkata, “apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku tidak ada artinya. Sesungguhnya surge dan kebahagiaanku berada di dalam hatiku. Kemana pun aku pergi, aku selalu bersama dengan surgaku. Jika mereka memenjarakanku, penjara adalah tempat berkhalwatku. Jika mereka mengasingkanku, di tempat pengasingan tersebut adalah tempat rekreasi yang indah bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematian adalah syahid.”
 #Sebuah pendahuluan
dari buku “Pesona Cinta Manusia-Manusia Pilihan”
(M. Surahman Az Zuhri, Lc)

0 komentar:

Posting Komentar